Covid 19, dari angkanya yang 19 mau ke 20 kalau umur ini sudah bukan anak-anak lagi namun sudah dewasa dapat mengambil keputusan, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi covid 19 ini melainkan sebuah virus yang menyerang siapapun baik dan buruknya orang tersebut.
Yang tangguh dan yang sehat yang akan kebal dengan covid ini? Belum tentu juga. Bahkan yang kelihatan sehat dan kuat juga bisa kena covid 19. Begitu dahsyat ya menyerang umat manusia di muka bumi ini.
Dilansir dari Wikipedia. Pandemi Covid-19 adalah peristiwa menyebarnya Penyakit koronavirus 2019 (Bahasa Inggris: Coronavirus disease 2019, disingkat Covid-19) di seluruh dunia untuk semua Negara. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah Covid-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Hingga 14 November 2020, lebih dari 53.281.350 orang kasus telah dilaporkan lebih dari 219 negara dan wilayah seluruh dunia, mengakibatkan lebih dari 1.301.021 orang meninggal dunia dan lebih dari 34.394.214 orang sembuh.
Saya mengingatnya covid terjadi sudah 2 tahun. Melihat anak saya naik kelas sudah 2x belajar dengan sistem belajar online atau daring (terhubung melalui jejaring). Namun Alhamdulillah awal bulan september 2021 ini dari beberapa sekolah sudah menerapkan sistem Pembelajaran Tatap Muka (PKM). Saya mempunyai 2 anak yang sudah bersekolah. Sepekan 2x masuk sekolah dengan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan sebelum masuk dan pulang ke sekolah dan menjaga jarak.
Betapa antusiasnya anak kami datang ke sekolah. Keluarga tangguh menurut saya adalah keluarga yang bahagia di era pandemi ini. Di dalam pikiran yang bahagia akan tercipta lingkungan nyaman dan anak anak sehat. Kalau suasana hati sedang tidak moody membuat badan tidak fit. Rasanya bosan sekali, saya dalam 2 tahun belakangan ini yang tidak pernah ke hotel untuk liburan, membawa anak ke mall 1x saja di 2 tahun terakhir ini karena ada keperluan mereka membeli hadiah karena kebaikan yang mereka capai.
Saya termasuk yang cukup menjaga anak-anak untuk tidak datang ke tempat berkerumun di dalam gedung. Namun kalau untuk olah raga ke lapangan, ke taman untuk bermain dengan udara bebas kami cukup sering melakukannya. Supaya dapat 'mood booster' untuk bahagia dan bonus kesehatan
Alhamdulillah di saat beberapa kerabat, tetangga atau saudara dekat kami terpapar covid. Saya dan keluarga tidak pernah merasakannya. Nikmat Allah berikan kami kesehatan dan kekebalan tubuh kepada kami.
Sebenarnya kami juga merasakan beberapa hikmah dari pandemi covid ini yaitu menjaga kebersihan. Mungkin yang tadinya abai akan cuci tangan sekarang semua orang spontan melakukannya.
Dan sekarang otomatis salaman dengan yang bukan mahrom (lawan jenis) tidak perlu bersentuhan lagi. Sekalian alhamdulillah menjaga saya.
عَنْ أَبِي العَلاَءِ حَدَثَنِي مَعْقِلُ بْنُ يَسَارٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ [رواه الطبراني والبيهقي، ورجال الطبراني ثقات رجال الصحيح].
Dari Abu ‘Ala menceritakan padaku Ma’qil bin Yasar (diriwayatkan), ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya” [HR. ath-Thabrani]
Secuil nikmat di era pandemi covid 19 yang bisa saya pribadi peroleh. Namun soal keluhan di era pandemi betapa banyaknya yang kalau dijabarkan satu persatu akan teramat banyak.
Seorang Ibu rumah tangga seperti saya hanya butuh anak-anak bisa bersekolah bertemu dengan Bapak dan Ibu Guru, bertemu dengan teman-temannya walaupun keadaan tidak dapat normal seperti dahulu dapat bercengkrama tak memakai masker.
Jauh dari lubuk hati yang terdalam, tidak bisa pendidikan terus menerus di rumah. Setangguh apapun Ibu. Ibu adalah jantungnya keluarga, kalau dia bahagia, suami dan anak-anak akan bahagia pula.
Namun sekolah online ini membuat Ibu seperti saya harus extra sabar. Kami pun tidak mumpuni dari segi keilmuan. Ibu yang menjadi sering marah. Walaupun tagline "Jangan marah-marah" dan "Sabar" sudah ada di otak namun pelaksanaannya tak semudah membalikkan tangan. Saya bisa mengajarkan anak orang lain tapi tidak anak sendiri. Ini berlaku bagi semua Ibu bukan?
Cemas akan mental anak karena diajari oleh Ibunya setiap hari walaupun memang bisa diajarkan oleh Gurunya pada saat online. Alhamdulillah PKM Offline diberlakukan di bulan September 2021 kemarin telah diberlakukan, walaupun hanya 2 pekan sekali cukup menjadi obat rindu anak-anak ke sekolah.
Bagaimana tidak? Anak sulung dan anak tengah kami bangun lebih pagi, berangkat lebih dulu untuk pergi sekolah. Semoga pandemi ini segera berakhir agar anak-anak bisa mengenyam pendidikan dengan sebagaimana mestinya. Diajarkan oleh Para Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa. Namun amal jariyahnya tidak akan pernah putus in syaa Allah Aamiin..
Komentar
Posting Komentar