Menjadi Ayah dan Bunda Yang Dirindukan

Bismillah catatan kajian parenting pada hari Ahad tanggal 20 Maret 2022/16 Sya'ban 1443 H yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Maidany MA di Masjid Raudhatul Muhsinin New Serpong Estate Tangsel.



Anak butuh waktu kita, ini yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak.
Fasilitas, rumah yang nyaman bisa kita penuhi. Namun yang sulit dipenuhi adalah waktu dan perhatian kita.

Contoh kasus :
Anak 5 tahun mencuri, ternyata diselusuri adalah harapannya anaknya ingin mengalihkan perhatian orang tua, dia ingin diperhatikan orang tuanya. Padahal dia serba kecukupan, dia sengaja melakukan itu. Yang kurang bukan materi tapi waktu. Waktu sebenarnya adalah sangat bernilai. Ada waktu luang dipakai untuk melampiaskan hobi, bersenang-senang dengan hobinya misalnya motoran padahal sebenarnya anak butuh waktu dan perhatian orang tuanya.

Anak tidak bisa memakluminya, kalau istri mungkin bisa sehingga anak mencari perhatian dengan tingkah ganjil anak. Maka ayah dan bunda yang murah memberikan perhatian adalah ayah dan bunda yang dirindukan

Misalnya contoh ayah ada waktu yang dilihat malah sepedanya, motornya, yang dielus itu. Sehingga mereka merasa bahwa ayah kalau ada waktu yang diperhatikan adalah motornya.

Cari istri yang penyanyang dan lemah lembut. Lemah lembut adalah sikap yg dicintai oleh Allah dan manusia.

Anak yang polos jiwanya pasti menginginkan kelemah lembutan. Dan dia akan benci dengan pendidik yang yang galak atau kejam. Mana yang lebih dekat dengan guru yang santun atau yang galak, walaupun ilmunya yang santun trsbt tidak banyak. Namun guru yang santun lebih kena di hati kita.

Kegalakan wanita akan menutupi kecantikannya. Seorang yang gak baik2 amat misalnya tapi dia suka tersenyum yang diingat senyumnya karena itu yang dominan.

Tidak singkron wajah saya galak namun tidak jadi alasan untuk kita bisa bersifat santun dan lemah lembut. Itu hanya sugesti saja bahwa suku ini keras.

Maka dari itu rasulullah berkata
Allah itu Maha lembut dan menyukai kelembutan.
 وَهْبٍ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ حَدَّثَنِي ابْنُ الْهَادِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَمْرَةَ يَعْنِي بِنْتَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ 

Rasulullah SAW bersabda, "Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya." (HR Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits:

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya”(HR. Abu Dawud, sanad: shahih).

Ada anak dikasari akan 'nurut' itu hanya sesaat. Kita bersikap galak, bengis namun suatu saat kemudian akan berbalik.

Namun kelemahlembutan walaupun lama namun fitrah anak itu baik sehingga Ia akan membalas kelemahlembutan. Namun kalau kita dijahati orang walaupun kita tidak membalasnya secara langsung tapi di dalam hati tetap ada niat membalas. Karena kekasaran kita adalah solusi sesaat. Perlakukanlah anak dengan lemah lembut karena kita secara tidak langsung menanamkan karakter anak.

Anak yang polos bisa merasakan atau membaca siapa yang menyayanginya, membaca perasaan orang dewasa, anak bisa terbuka dan percaya kepada orang yang menyayangi dia. Karena bila dia mau berbagi rasahianya kepada seseorang yang menyayangi dia.

Kunci kesuksesan rasulullah adalah ramah dan sikap lemah lembut, memberikan kesan kepada orang. Allah menyayangi hamba hamba yang mempunyai kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda
"Orang-orang yang ada rasa Rahim akan dirahmati oleh Tuhan yang maha Rahman, yang memberikan berkat dan Mahatinggi. Sayangilah orang-orang yang di bumi supaya kamu disayangi pula oleh yang di langit."

(Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan al Hakim dari Abdullah bin Umar)

Rasulullah adalah orang yang paling berkasih sayang kepada anak, istri dan keluarganya.

Ketika rasulullah sholat, ketika nabi melakukan sholat lalu mendengar anak sedang menangis maka nabi memperpendek bacaan surahnya.

Orang tua yang penyayang, yang memiliki kasih sayang dan menjaga perasaan anak, ada faedahnya di dalam  bermuamalah, apa yang kamu tidak suka orang lain melakukan itu padamu maka jangan melakukannya.

Kalau kita tidak suka dimarahi karena salah kita kadang kita tidak terima. Anak juga sama, apalagi anak. Maka penting menjaga perasaan anak. Kalau anak tiap hari dimarahin sama bos contoh, kita juga akan tidak suka. Karena marah itu bercampur hawa nafsu, maka periksa hatinya maka ada yang salah.

Maka kondisi kejiwaan anak yang sering dimarahi akan rusak. Ada orang yang marah untuk mencari kepuasan dan lega bila sudah marah. Maka dari itu marah ada campur hawa nafsu di situ.

Anak baru lahir ke dunia sehingga banyak yang ia tidak tau, maka kita harus bisa memaklumi kekurangan anak itu, kita beri tahu. Kalau kita terima  jadi dia nurut sdh dewasa buat apa kita orang tua.

Maka Allah ciptakan kita sbg manusia sebagai orang tua untuk mendidiknya dan mengurusnya.

Masa anak-anak Allah jadikan kurang
Pemahamannya, otaknya belum berkembang. Maka bila kita mengurus anak dengan baik, menjaga perasaan anak, dia akan menjadi pribadi yang lemah lembut karena kita membentuk pribadi anak yang percaya diri. Atau sebaliknya anak itu menjadi pribadi yang keras dan tidak berempati karena dia tumbuh menjadi anak yang tidak peduli orang lain, tidak punya empati pada orang lain.

Kecendrungan manusia ingin membalas dendam atas perlakuan kasar terhadapnya.

Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adil kepada anak anak. Kita mau anak anak kita berbakti kepada kita di semua anak anak kita, maka berlaku adil kepada smua anak-anak kita.

Mencium anak- anak kalian. Bila kalian tidak mencium anak anak kalian sperti orang badui dahulu maka Allah telah mencabut kasih sayang darimu.

Dalam kisah lain, seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi, ’’Apakah Anda mencium anak laki-laki? Kami tidak pernah mencium anak laki-laki.”  Nabi SAW bersabda, ’’Aku tak dapat berbuat apa-apa terhadap kamu jika Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR Imam Al-Bukhari).

Aqra bin Habis pernah melihat Nabi sedang menciumi Al-Hasan. Aqra berkata, “Sesungguhnya, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium seorangpun di antara mereka!”

Lalu Rasulullah SAW bersabda,’’Barang siapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.'' (HR Imam Muslim)

Dengan kita menyanyangi mereka maka anak akan menyanyagi kita. Karena kita lebih sempurna akalnya, jangan menunggu mereka dulu melakukannya  karena apa yang kita tanam itu yang nanti kita akan tuai.

Berkomunikasilah dengan anak walaupun apa yang diceritakan adalah ngalor ngidul, kita seringkali tidak serius atau hanya basa basi saja. Jika sudah terbiasa berbicara dengan anak nanti akan lebih mudah ketika dia sudah dewasa dalam berkomunikasi. Gak selamanya anak kecil terus, maka bangun pembicaraan dari kecil sehingga ketika diajak berbicara serius tidak menjadi canggung.

Nabi Muhammad Salallahu 'alaihiwassalam juga bergurau, bercanda, bermain, berlari, bergaya kekanak-kanakan, seperti yang diceritakan Zabir, berusaha mengerti dunia anak-anak, dunia bermain. Waktu kecil anak dididik dengan anak dewasa, kebalik anak dewasa dididik dengan seperti anak anak padahal ia merasa sudah serius dunianya.

Kuncinya adalah orang tua bisa memberikan waktu dan perhatian. Coba ayah dan bunda diskusi berdua untuk memberikan waktu. Sisihkan waktu untuk mereka. Berat memang untuk lebih memuaskan hobi daripada memberikan waktu dan perhatian kita. Padahal kita sedang membangun kebersamaan kepada anak.

Coba tanyakan kepada diri kita seberapa banyak kita sudah memberikan waktu dan perhatian. Karena anak perlu dua sosok yaitu bunda dan ayah. Maka sosok single parent tidak ideal. Ada peran ibu yang tidak bisa digantikan, begitu juga ayah.

Tidak mau kita dia hanya berbakti kepada ibunya saja, namun kepada ayahnya dia durhaka. Maka dari itu sosok ayah dan bunda saling melengkapi.

Masalah hadiah dan hukuman.
Kita memberikan perintah kepada anak ada dua kemungkinan yaitu : melakukan atau tidak melakukan.

Misalnya kita taat perintah Allah, bila kita tidak ikuti ada hukuman. Maka Allah pun bersikap adil kepada kita.

Ketidakadilan akan membangkitkan pemberontakan.

Tambahan Tanya Jawab:
Tidak ada pesantren di basuta. Dibawah sepuluh ditanam. Karena anak 10 tahun itu masa pondasi adalah krusial yang kita harus tanamkan kepada anak. Bila ingin memondokkan anak cari pondok yang berkualitas.

Karena di masa itu adalah masa kita menanamkan pondasi, jangan sampai kita menyesal.

Kebersamaan yang banyak akan membangun kepercayaan.

Wallahu'alam bhisawab


Rujukan bacaan untuk anak pada usia baligh:
Tarbiyah jinsiyyah
Pendidikan seksual untuk anak dan remaja di dalam islam


Pencatat: 

Amelia Zen

Bila ada kekhilafan itu atas kebodohan diri saya sendiri dan kepada Allah saya mohon ampun. Semoga catatan ini bermanfaat Aamiin











Komentar