Intinya mah Ngobrol!
Kapan terakhir ngomong sama anak remaja kamu? Yang benar-benar ngomong ya bukan basa-basi.
By the way, remaja itu kayak nanggung gak sih? anak kecil bukan, orang dewasa juga bukan. Kayak di tengah-tengah, kita sering bilang “lagi mencari jati diri”.
Kalau dia lagi mencari sesuatu atau bahkan mencari jati diri dan kita sebagai orang tua enggak hadir, bahaya banget kalau dia mencari tau sendiri tidak didampingi, karena kalau dia mencari sesuatu ke yang expert alhamdulillah pas, kalau malah ke yang bukan ahlinya atau lebih parahnya lagi ke arah sesuatu yang buruk. Duh ngeri!Di zaman sekarang akses informasi bebas tidak terbatas.
Maka dari itu jadilah teman ngobrol yang asik! Seasik dia bisa ngobrol lama sama temennya di sekolah, di tempat tongkrongannya, di chat WA. Ini nasihat kita semua, mau yang punya anak remaja atau yang baru mau punya anak remaja, dan juga belum punya anak remaja, dari kecil sudah jadi teman main asik bagi si anak.
Kalau aku justru sudah punya anak remaja yang memang lagi di fase kalau dibilangin dia ‘ngelawan’. Membantah karena anak mempunyai argumen sendiri, di sisi lain aku jadi senang kalau di debat sama anak. Alhasil jadi bisa debat bareng, kalau aku lebih suka ada diskusi dan debat sama anak remaja sambil dia mengungkapkan ketidaksetujuannya, sambil bertukar pikiran, tapi ya selalu jadi ribut sih! Tapi minimal ada komunikasi di situ.
Saat dia bersuara meninggi saat kita debat atau diskusi, tidak menasehati di saat itu juga. Tetap menjaga adab kepada orang tua. Tetap ngingetin ke anak bila ada kebebasan berpendapat tapi sopan juga santuy gak pake ngegas.
Daripada dia diam saja, tidak mau bicara atau hanya iya saja agar biar cepet aja kita berhenti ngomong tanpa ada perlawanan. Malah menurutku bahaya yang kayak gini. Diam-diam saja akan menjadi bom waktu yang bisa meledak gak tau kapannya.
Karena sering ngobrol mulai dari yang gak penting, penting dan apapun itu, sehingga anak remaja ini nyaman, sering curhat dan alhamdulillah pertanda baik kalau ada apa-apa, kita jadi garda terdepan untuk mendengarkan.
Tantangannya adalah paling susah nasehatin anak, kita aja dinasehatin suami suka gak masuk, kalau pas denger kajian, atau informasi dari orang lain baru kita dengerin. Pas suami ngomong gak dianggep. Tapi minimal kalau kita ngobrol sama anak mulai aja dengan sederhana dengan bertanya. Bukan kita yang kerjanya cuma nasehatin aja. Masa iya gak ada hal yang baik dari suami atau anak yang kira-kira bisa kita ambil pelajaran atau hikmahnya.
Malah kita juga jadi bisa mendengarkan apa yang dia rasakan, apa yang dia mau, begitupun kita sebagai orang tua. Gak bisa kita jadi orang tua sempurna, kadang juga kita belajar dari si anak kan.
Perlunya satu visi dan misi dalam membangun rumah tangga dan mengurus anak yang gak pernah ada selesainya. “Selesaikan masalah dengan bicara” ini yang selalu suami bilang ke anak bila ada sesuatu hal terjadi.
Dan permasalahan apapun itu selesaikan dengan bicara, tidak dipendam biar ada solusinya. Ada win win solutions ya kan.
Well, kita gak bisa jaga anak 100persen dari pandangan mata kita, kita dulu yang mulai untuk bertanya agar dia mau menjawab, kita dulu mendengarkan biar dia mau bercerita, kita dulu berdoa memohon pertolongan Allah, baru Allah menolong kita, kita dulu yang mulai, kita dulu sebelum anak-anak mencontoh. Kita kita kita dulu.
Jadi orang tua kadang banyak marahnya, banyak kata-kata yang mungkin bikin anak kesel, jangan lupa minta maaf di hari itu, peluk dengan tulus dan doakan selalu mereka, mereka juga manusia yang mudah memaafkan dan merasakan kalau kita sayang. Kalau kita tulus, mereka si anak remaja juga pasti merasakan ketulusan kita.
Yuk ajak ngobrol anak-anak kita!
UmmaAmel
5 Mei 2026
Komentar
Posting Komentar