Alasan terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga

Dini hari sekitar pukul 00.30 WIB, suasana malam hening hanya ada suara kami berdua, sesekali suara mobil atau motor melintas di depan rumah kami yang terletak di jalan utama.


Anak kami yang bungsu sudah tertidur lelap, umurnya baru satu tahun lebih dua bulan tentunya tidurnya masih di kamar kami. Saya memastikan pintu dan jendela tertutup rapat agar suhu AC _(Air Conditioner)_ tetap dingin agar tidurnya nyenyak sehingga dia tidak sampai terbangun dengan suara kami. Kami duduk di ruang makan yang berada persis di depan kamarnya.


Kami berbincang-bincang tentang sekolah anak kami yang sulung. Kemarin siang saya baru saja mengambil seragam sekolahnya, mengingat minggu depan kegiatan belajar mengajar segera dimulai. _Alhamdulillah_ Allah telah menitipkan kami tiga anak yang semua adalah perempuan. _Maa syaa Allah tabarakallah._


Selayaknya seorang istri, selepas suami pulang kerja, saya melakukan rutinitas saya sebagai Ibu Rumah Tangga. Saya menyiapkan air putih hangat, menyiapkan baju ganti, kemudian saya akan bertanya _"kamu mau makan gak?"_ bila dia lapar, dia minta dibuatkan mie instan. Mie instan selalu bisa menjadi andalan, namun tetap kami batasi dalam mengkonsumsinya. Agar menjadi menu sehat, saya tambahkan sayuran yang banyak. Satu porsi mie instan tersebut menjadi porsi besar yang cukup mengenyangkan kami berdua.


Setelah makan kami tidak lantas langsung tidur, paham betul bahwa setelah makan tidak baik bergegas tidur. Kami pun mengobrol kesana kemari hingga akhirnya terjadilah pertengkaran hebat di antara kami.


Saya jadi mengingat kembali mengapa kami bisa bertengkar hebat? menurut pandangan saya, bertengkar hebat bisa terjadi bila ada barang terdekat di sekitar lokasi kejadian pertengkaran dapat melayang dan PRAAANG _“pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh” (anak 90-an pasti ngerti nih)._


Melempar barang hingga pecah sebagai bentuk ekspresi kemarahan sang suami, istri biasanya banting pintu. kalau sudah begitu setan pasti ikut ambil bagian dalam membuat suasana rumah makin panas membara yang meledakkan emosi masing-masing pasangan.


Setelah kejadian emosi menyertai kami malam itu. Saya berfikir dan menelaah mengapa suami istri dapat bertengkar hebat? Sampai kata-kata yang keluar dapat menyakitkan bahkan dapat melontarkan kata 'cerai'. _Na’udzubillahi mindzalik._


Beberapa hal *alasan terjadinya pertengkaran* adalah sebagai berikut:


1. *Ada jarak di antara kita* (suami istri_red)


Jangan ada jarak di antara kita suami istri. Duduk menentukan posisi dimana kita sedang berbicara. Seharusnya tadi malam kami duduk berdekatan, diusahakan malah duduk menempel agar ada sentuhan antara suami dan istri. Sentuhan nyaman itulah yang akan membuat rileks sehingga besar kemungkinan lebih cepat mengantuk dan pergi ke ranjang. _Eaaaa._


Sama seperti kita berbicara dengan anak hendaknya kita sejajar bersamping-samping-an sambil mencodongkan badan ke arah anak itu bagus lagi sambil menggosok punggung sang anak, anak pun merasakan kenyamanan mengobrol dengan kita orang tua, cara jitu mengobrol ini saya dapat dari Materi Pengasuhan Tiga Generasi oleh Ibu Elly Risman, Psi. Ketika anak nyaman mengobrol dengan kita di saat itu kita dapat menyelipkan nasihat-nasihat. _Ngobrol loh ya bukan nasehatin sambil teriak-teriak. _Emak-emak banget sih._


Sungguh sangat disayangkan malam itu kami mengobrol berhadapan dengan jarak seperti kita sedang merentangkan tangan. Ukuran meja kami yang besar membuat kami berjauhan, sehingga bila ingin bersentuhan tangan perlu usaha untuk memanjangkan tangan terlebih dahulu. Obrolan saat itu lebih terlihat seperti interview antara bos dengan calon pegawai. Dalam hal ini tidak ada keintiman dalam mengobrol antara suami istri.


2. *Momen tidak pas dalam mengutarakan curahatan hati*


Sudah beberapa kali saya survey di keluarga saya pribadi, obrolan sesantai apapun akan berujung murka bila momen tidak pas dibicarakan.


Suami baru saja pulang kerja, kita sudah tidak sabar ingin bercerita tentang apa yang kita kerjakan hari ini. _Alhamdulillah didengerin aja udah syukur yee mak._


Permasalahan muncul bila unek-unek istri disampaikan dalam bentuk masalah yang membuat segala sesuatu bertambah buruk, dengan momen yang tidak pas inilah membuat emosi tidak terkontrol dan intonasi suara meninggi dikarenakan kelelahan suami dan istri juga lelah seharian mengurus anak atau kerjaan di kantor.


Bukankah anak kecil yang sedang mengantuk akan rewel? jangankan anak kecil, kami orang dewasa yang mengantuk juga akan rewel ala orang dewasa, _gak cengeng sih,_ tapi ada yang mengganggu ya pasti marah, masalah kecil pun bisa jadi dibesar-besarkan.


Saya jadi ingat Ibu saya pernah bilang _"kalau ngobrol jangan lama-lama nanti malah ribut"_ mungkin ada benarnya, yang saya rasakan bila berbincang-bincang lama _ngalor ngidul_ kemudian nyerempet ngungkit kesalahan masa lalu akhirnya timbul permasalahan yang paling digemari antara pasangan adalah menganggap saya benar dan kamu salah. Dengan kata-kata aji pamungkas _"kamu gak pernah"_ dan _"kamu selalu aja"._


Kalau sudah begitu momen tidak pas ini otomatis bisa membuat emosi naik disertakan intonasi suara tinggi yang akan berakibat pertengakaran.


3. *Tidak ada yang mau mengalah*


Harus ada yang mengalah salah satu diantara kita suami atau istri. Ketika suami keras, marah, emosi, hendaknya kita sebagai istri lebih baik diam. Biarkan perasaan emosinya mengalir terselesaikan sampai kita diberi kesempatan berbicara.


Dalam pertengkaran kami yang sudahlah larut, omongan suami malah saya timpali. Dasar mulut emak-emak susah banget _didieminnya, diemnya_ kalau lagi _nge-scroll_ instagram sama online shop _Astagfitrullohal'adzim._


Maka sabar dan diam ketika suami ngomong ini tidak mudah mak! perlu latihan khusus secara berkala untuk mewaraskan diri kita. Mengapa Allah melebihkan laki-laki atas perempuan di dalam Islam? sebab salah satunya adalah dengan taat kita kepada suami, taat kepada suami disambung lagi satu SKS (Satuan Kredit Semester) oleh Ustadz masing-masing _hehe afwan_ saya belum ada ilmunya.


Maka dari itu lingkungan para istri yang baik, berteman dengan teman-teman yang _sholihah In syaa Allah_ kita ikut _sholihah_ juga, ikut kajian yang menambah taat kepada Allah akan menambah pula taat kita kepada suami yang membuat kita makin beradab karena mendapatkan keberkahan ilmu itu sendiri.


Saya sangat tersentil dengan hadist shahih berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,


قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ


Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, _“Siapakah wanita yang paling baik?”_ Jawab beliau, _“Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”._ (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).


Hadist shahih ini kelihatannya sederhana, namun sangat sangat perlu perjuangan untuk melakukannya. 


Dalam setiap kejadian terkandung hikmah di dalamnya bagi orang-orang yang mau berfikir.


Alasan-alasan pertengkaran tersebut di atas tidak tertutup kemungkinan ada tambahan lain. Karena dalam rumah tangga pasti ada asem manisnya. _Rujak kali ah._


Setan tidak akan berhenti mengganggu suatu pernikahan sampai adanya perceraian. Bisa dari segi ekonomi, ujian anak-anak, ujian dari pasangan entah itu dari suami atau istri, dari segi orang tua atau mertua atau keluarga pihak istri maupun suami yang misalnya ikut ambil bagian, atau bisa juga dari WIL (Wanita Idaman Lain). _Duh serem._


Pada intinya, ada hikmah pelajaran yang bisa saya petik dari pertengkaran saya dengan suami. Saya tuangkan dalam tulisan ini mungkin di luar sana ada yang mengalami hal sama. Agar kita bisa sama-sama menjadi wanita paling mulia, wanita paling baik untuk paling tidak minimal untuk keluarga kita dahulu, dibalik anak-anak yang baik ada Ibu yang baik pula, di balik suami yang baik pasti ada istri yang baik perangainya pula.


Kalau ada pertanyaan, sebagai istri kita sudah baik terhadap suami, namun suami tidak berbalas baik itu gimana? selama tidak melenceng dari syari'at hendaknya kita tetap taat. *Surga menantimu wahai istri sholihah!*


Semoga Allah mengaruniakan kita semua keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah sampai bertemu lagi di Jannah Nya.. aamiin..


Amelia Zen

Komentar