Kimil itu Nama Panggilan Kesayangan
Bismillah
Assalamu'alaikum (dengan suara keras lalu dua tangan diangkat keatas sebatas bahu dengan telapak tangan terbuka ala betawi ) padahal saya bukan orang betawi tapi kalau suara keras begini in syaa allah yang baca tulisan ini akan menjawab salam dari saya. Salam sejahtera bagi kita semua.
Adzan Isya berkumandang setelah suara tangis bayi perempuan itu lahir. Sungguh haru nan bahagia rasanya Ayah dan Ibu melihat bayi itu menangis yang masih bersimpuh darah dimana-mana Maa syaa allah betapa besar perjuanganmu Ibu untuk melahirkan sang bayi. Alhamdulillah terimakasih kepada Sang Pencipta Allah Subhanahu Wata'ala
Bayi itu adalah saya sendiri. Saya lahir di jakarta. Umur saya saat ini 32 tahun baru saja bertambah tua di tanggal 24 Juni yang lalu. Saat ini saya tinggal di Pamulang, Tangsel sejak umur 4 tahun, karena sebelumnya Ibu dan Ayah tinggal di Pasar Minggu, Jaksel. Saya berdarah Palembang namun bukan Palembang kota, lebih tepatnya Sumatera bagian Selatan. Ayah kecil di Muara Enim sedangkan Ibu di Tanjung Agung. Tapi ketika menikah Ibu dan Ayah merantau ke Jakarta.
Saya paling cantik di keluarga setelah Ibu saya tentunya diantara 3 kakak-kakak laki-laki semua. Saya anak bungsu perempuan
"mama dulu kepengen banget punya anak perempuan, sampai 2 kali keguguran dulu sebelum kamu lahir, terus kebawa mimpi nimang-nimang anak perempuan eh alhamdulillah dapet anak perempuan, kamu lahir habis isya, cantik sekali" Begitulah sepenggal cerita Ibu kepada saya.
Nama beken Amelia Zen. Nama pemberian dari kedua orang tua saya adalah Arizki Mirza Yunfitri. Huruf A dinama-saya dibuat menjadi singkatan yaitu Amelia, nama tambahan waktu saya SD yang diberikan oleh tetangga Ibu, beliau seorang Guru. Karena arizki menurut beliau artinya tidak ber-rezeki sehingga nama saya ditambahkanlah menjadi Amelia Rizki Mirza Yunfitri. Kalau keluarga atau teman kecil panggil saya dengan sebutan Kiki. Tapi beranjak SMA sampai dengan sekarang dipanggil Amel.
Kimil itu nama panggilan kesayangan saya. Saya senang sekali dapat panggilan Kimil, biasanya yang panggil Kimil saat ini adalah kakak-kakak saya jikalau seandainya mereka menelpon atau kami bertemu. Seakan-akan setiap dipanggil Kimil, pikiran saya menerawang jauh ke alam masa kecil. Karena nama Kimil itu pemberian dari alm. Ayah saya. Rindunya saya dipanggil Kimil oleh Ayah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa alm dan Allah tempatkan alm Ayahku di surga Mu Ya Allah. Aamiin..
Kalau dulu Ibu saya susah dapetin anak perempuan. Sekarang malah saya yang mempunyai 3 anak perempuan: Azura 6th, Azumi 3th, Azena 2 bln. Saya menikah dengan suami yang bernama Johan. Johan tok. Nama yang singkat, beda dengan nama saya yang panjang. Suami saya berdarah asli cina, alhamdulillah karena Ayahnya mualaf, dia adalah seorang cina muslim sehingga paras anak-anak perempuan saya sipit semua. Kalau orang cina bilang 'amoy' julukan bagi gadis belia atau perempuan muda. Sebutan ini merupakan serapan dari amoi (阿妹) dalam Bahasa Tionghoa yang berarti harfiah "adik perempuan"
Kembali bercerita soal kimil kecil, masa kecil yang paling saya ingat yaitu ketika hujan turun dengan lebatnya, saya dan kakak laki-laki saya nomor 3 mandi hujan tanpa sepengetahuan Ibu alias kabur gak bilang-bilang. Dan kami berdua masuk got! Kami menunduk-nunduk seperti memasuki sebuah terowongan dengan kaki telanjang melewati air tergenang yang penuh lumut. Rasanya licin layaknya rintangan kecil mengasyikan. Kami berjalan menelisuri got yang bermuara di got besar. Kalau anak-anak kekinian bilang euuww jorok banget. Tapi aseli momen bahagia itu yang terbawa ketika saya dewasa. Bahagia sekali bisa mandi hujan dengan bebas. Sehingga jika hujan turun, saya suruh anak-anak mandi hujan kadang dengan saya, kadang dengan ayahnya bergantian.
Profesi terindah saya sekarang adalah Ibu rumah tangga. Sama seperti ibu saya beliau juga Ibu rumah tangga. Untuk membantu perekonomian keluarga, Ibu berdagang bikin warung kelontong di rumah. Semoga Allah sehatkan dan berkahkan umur Ibuku Ya Allah.. Aamiin.
Keputusan profesi ini begitu berat untuk dibulatkan. Setelah saya menyandang gelar SH dan lulus Advokat. Mantan pegawai Bank selama 6 tahun. 3 tahun Bank swasta 3 tahun di bank BUMN. Padahal kantor saya yang terakhir itu berjarak hanya memakan waktu tempuh 15 menit bila menggunakan motor. Istrahat siang bisa pulang ke rumah dulu bercengkrama dan makan siang bersama anak.
1 tahun saya maju mundur untuk memutuskan resign dari Bank BUMN tersebut karena kalau ingat perjuangan saya jadi pegawai tetap begitu luar biasa karena benefit nya juga lumayan belum lagi gaji saya diperuntukkan untuk cicilan yang belum lunas.
Dengan cibiran dan keluarga menyayangkan saya "kenapa kok resign" "sayang banget udah pegawai tetap" tapi akhirnya saya berhenti kerja. Sempat saya marah kepada Allah. Sebulan saya berhenti kerja dengan tidak lagi ada pemasukan gaji untuk membantu perekonomian keluarga, saya malah hamil lagi. Ya Allah kenapa saya hamil lagi? Pikiran saya waktu itu kalau anak nambah biaya nambah. Astagfirulloh. Saya merenung dan banyak sujud, pada masa itu saya dikenalkan teman mulai ikut-ikutan dunia parenting yang berdasarkan islam dan hadist. Akhirnya saya mengerti dan menceritakan kepada Ibu saya. Dan support dari lbu mulai saya dapatkan. Sebelumnya hanya suami yang mendukung saya. "Rejeki tidak pernah ketuker" itu begitu suami saya bilang. Alhamdulillah karena saya menjalankan salah satu perintah Allah untuk 'diamlah kamu di rumahmu' dan setelah itu karir suami saya menanjak dan cicilan yang selama ini saya bayar waktu saya bekerja akhirnya suami yang ambil-alih. Semoga saya tetap istiqomah, dan kamu yaaa kamu yang mau berhenti kerja karena Allah demi mengurus suami dan anak. In syaa allah Allah berikan gaji tunai dalam bentuk lain untukmu in syaa Allah.
18 Juli 2018
Amelia Zen
Di Baiti Jannati (Rumahku Surgaku)
Assalamu'alaikum (dengan suara keras lalu dua tangan diangkat keatas sebatas bahu dengan telapak tangan terbuka ala betawi ) padahal saya bukan orang betawi tapi kalau suara keras begini in syaa allah yang baca tulisan ini akan menjawab salam dari saya. Salam sejahtera bagi kita semua.
Adzan Isya berkumandang setelah suara tangis bayi perempuan itu lahir. Sungguh haru nan bahagia rasanya Ayah dan Ibu melihat bayi itu menangis yang masih bersimpuh darah dimana-mana Maa syaa allah betapa besar perjuanganmu Ibu untuk melahirkan sang bayi. Alhamdulillah terimakasih kepada Sang Pencipta Allah Subhanahu Wata'ala
Bayi itu adalah saya sendiri. Saya lahir di jakarta. Umur saya saat ini 32 tahun baru saja bertambah tua di tanggal 24 Juni yang lalu. Saat ini saya tinggal di Pamulang, Tangsel sejak umur 4 tahun, karena sebelumnya Ibu dan Ayah tinggal di Pasar Minggu, Jaksel. Saya berdarah Palembang namun bukan Palembang kota, lebih tepatnya Sumatera bagian Selatan. Ayah kecil di Muara Enim sedangkan Ibu di Tanjung Agung. Tapi ketika menikah Ibu dan Ayah merantau ke Jakarta.
Saya paling cantik di keluarga setelah Ibu saya tentunya diantara 3 kakak-kakak laki-laki semua. Saya anak bungsu perempuan
"mama dulu kepengen banget punya anak perempuan, sampai 2 kali keguguran dulu sebelum kamu lahir, terus kebawa mimpi nimang-nimang anak perempuan eh alhamdulillah dapet anak perempuan, kamu lahir habis isya, cantik sekali" Begitulah sepenggal cerita Ibu kepada saya.
Nama beken Amelia Zen. Nama pemberian dari kedua orang tua saya adalah Arizki Mirza Yunfitri. Huruf A dinama-saya dibuat menjadi singkatan yaitu Amelia, nama tambahan waktu saya SD yang diberikan oleh tetangga Ibu, beliau seorang Guru. Karena arizki menurut beliau artinya tidak ber-rezeki sehingga nama saya ditambahkanlah menjadi Amelia Rizki Mirza Yunfitri. Kalau keluarga atau teman kecil panggil saya dengan sebutan Kiki. Tapi beranjak SMA sampai dengan sekarang dipanggil Amel.
Kimil itu nama panggilan kesayangan saya. Saya senang sekali dapat panggilan Kimil, biasanya yang panggil Kimil saat ini adalah kakak-kakak saya jikalau seandainya mereka menelpon atau kami bertemu. Seakan-akan setiap dipanggil Kimil, pikiran saya menerawang jauh ke alam masa kecil. Karena nama Kimil itu pemberian dari alm. Ayah saya. Rindunya saya dipanggil Kimil oleh Ayah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa alm dan Allah tempatkan alm Ayahku di surga Mu Ya Allah. Aamiin..
Kalau dulu Ibu saya susah dapetin anak perempuan. Sekarang malah saya yang mempunyai 3 anak perempuan: Azura 6th, Azumi 3th, Azena 2 bln. Saya menikah dengan suami yang bernama Johan. Johan tok. Nama yang singkat, beda dengan nama saya yang panjang. Suami saya berdarah asli cina, alhamdulillah karena Ayahnya mualaf, dia adalah seorang cina muslim sehingga paras anak-anak perempuan saya sipit semua. Kalau orang cina bilang 'amoy' julukan bagi gadis belia atau perempuan muda. Sebutan ini merupakan serapan dari amoi (阿妹) dalam Bahasa Tionghoa yang berarti harfiah "adik perempuan"
Kembali bercerita soal kimil kecil, masa kecil yang paling saya ingat yaitu ketika hujan turun dengan lebatnya, saya dan kakak laki-laki saya nomor 3 mandi hujan tanpa sepengetahuan Ibu alias kabur gak bilang-bilang. Dan kami berdua masuk got! Kami menunduk-nunduk seperti memasuki sebuah terowongan dengan kaki telanjang melewati air tergenang yang penuh lumut. Rasanya licin layaknya rintangan kecil mengasyikan. Kami berjalan menelisuri got yang bermuara di got besar. Kalau anak-anak kekinian bilang euuww jorok banget. Tapi aseli momen bahagia itu yang terbawa ketika saya dewasa. Bahagia sekali bisa mandi hujan dengan bebas. Sehingga jika hujan turun, saya suruh anak-anak mandi hujan kadang dengan saya, kadang dengan ayahnya bergantian.
Profesi terindah saya sekarang adalah Ibu rumah tangga. Sama seperti ibu saya beliau juga Ibu rumah tangga. Untuk membantu perekonomian keluarga, Ibu berdagang bikin warung kelontong di rumah. Semoga Allah sehatkan dan berkahkan umur Ibuku Ya Allah.. Aamiin.
Keputusan profesi ini begitu berat untuk dibulatkan. Setelah saya menyandang gelar SH dan lulus Advokat. Mantan pegawai Bank selama 6 tahun. 3 tahun Bank swasta 3 tahun di bank BUMN. Padahal kantor saya yang terakhir itu berjarak hanya memakan waktu tempuh 15 menit bila menggunakan motor. Istrahat siang bisa pulang ke rumah dulu bercengkrama dan makan siang bersama anak.
1 tahun saya maju mundur untuk memutuskan resign dari Bank BUMN tersebut karena kalau ingat perjuangan saya jadi pegawai tetap begitu luar biasa karena benefit nya juga lumayan belum lagi gaji saya diperuntukkan untuk cicilan yang belum lunas.
Dengan cibiran dan keluarga menyayangkan saya "kenapa kok resign" "sayang banget udah pegawai tetap" tapi akhirnya saya berhenti kerja. Sempat saya marah kepada Allah. Sebulan saya berhenti kerja dengan tidak lagi ada pemasukan gaji untuk membantu perekonomian keluarga, saya malah hamil lagi. Ya Allah kenapa saya hamil lagi? Pikiran saya waktu itu kalau anak nambah biaya nambah. Astagfirulloh. Saya merenung dan banyak sujud, pada masa itu saya dikenalkan teman mulai ikut-ikutan dunia parenting yang berdasarkan islam dan hadist. Akhirnya saya mengerti dan menceritakan kepada Ibu saya. Dan support dari lbu mulai saya dapatkan. Sebelumnya hanya suami yang mendukung saya. "Rejeki tidak pernah ketuker" itu begitu suami saya bilang. Alhamdulillah karena saya menjalankan salah satu perintah Allah untuk 'diamlah kamu di rumahmu' dan setelah itu karir suami saya menanjak dan cicilan yang selama ini saya bayar waktu saya bekerja akhirnya suami yang ambil-alih. Semoga saya tetap istiqomah, dan kamu yaaa kamu yang mau berhenti kerja karena Allah demi mengurus suami dan anak. In syaa allah Allah berikan gaji tunai dalam bentuk lain untukmu in syaa Allah.
18 Juli 2018
Amelia Zen
Di Baiti Jannati (Rumahku Surgaku)
Komentar
Posting Komentar