Mertuaku Surgaku

Sehari rasa sebulan. Betapa rasanya canggung dan tidak nyaman. Semanjak ibu mertua tinggal di rumah kami. Sebenarnya tidak lama hanya seminggu namun rasanya lamaaa sekali. Wajar saja beliau senang kedatangan cucu pertama.

Maklum suamiku adalah anak semata wayang. Arya Kurniadi, nama lengkapnya, aku memanggil dia dengan sebutan mkas Arya, padahal suamiku ini bukan orang Jawa. Bahkan kami sama-sama orang berdarah Sumatera. Panggilan mas untuknya adalah panggilanku ketika kami berada di satu almamater. Namun sudah terbiasa sampai aku menikah dengan mas Arya.

"Mama nginep aja ma di sini seminggu". Mas Arya menyuruh ibu kandungnya untuk menginap.

Deg! dadaku bergemuruh. Aku menelan ludah pahit namun tetap tersenyum manis mengarah ke suami dan ibu mertuaku. Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam aku sebenarnya ingin ibu kandungku saja yang ada di rumah kami agar lebih leluasa.
----

Alhamdulillah puji syukur aku melahirkan anak pertama yang kami beri nama Khadijah Mahira Putri. Nama ini kami pilih layaknya nama adalah sebuah doa. Semoga paras dan perangainya seperti Khadijah radiallahu 'anhu, istri Nabi Muhammad sallallahu 'allahi wassalam dan semoga anak kami menjadi anak yang cerdas, diantara namanya kami selipkan mahira diambil dari kata mahir yang berarti cerdas. Aamiin..

"Mahira, biar saya aja yang bantu urus ya ma, mama kan sudah sering urus bayi, cucunya aja udah sepuluh, saya baru satu ini." Pinta ibu mertua kepada besannya.

"Iya silakan aja ma, enak aku jadi gak repot". Celoteh ibuku sambil tertawa lepas.

"Nanti kalau repot, mama tinggal ke sini kan deket." Timpal ibu mertua

Rumah ibuku memang dekat dengan kami, hanya berbeda 2 (dua) blok dari rumah kami. Setiap saat ibu juga bisa ke rumah kami kapanpun ia ingin menengok cucunya. Sedangkan ibu mertua tinggal di kota Tangerang yang menempuh waktu 1,5 jam (satu setengah) jam ke rumah kami yang berada di Tangerang Selatan.

Alhamdulillah saat persalinan normal, mas Arya, ibu mertua dan ibuku hadir menemani. Setelah 2 (dua) hari di Rumah Sakit. Tiba hari ini aku sampai di rumah. Keputusan sudah bulat, ibu mertua akan ada menemani hari-hariku mengurus bayi.

Karena cerita kebanyakan orang dan aku pun meng-iyakan bahwa mempunyai ibu mertua yang tinggal serumah tidak semulus jalan tol. Maka dari itu sedari kami menikah, aku dan mas Arya ingin mandiri, tidak tinggal satu atap dengan orang tuaku maupun orang tua mas Arya. 

----

"Sar, haduh kamu jangan tidur pagi, nanti darah putihnya ke otak. Duduk aja". Ibu mertua memergokiku mengantuk sehabis menyusui Mahira.

Sontak kaget, mataku langsung terbelalak. Dalam hati ingin rasanya menimpali. Ya ampun ma. Aku ini baru saja habis melahirkan, pembukaan gelisah dari jam 4.00 pagi dan melahirkan baru jam 17.00 sore. Aku 2 hari di Rumah Sakit tidak bisa tidur karena putingku lecet menyusui Mahira, harus begadang karena baru saja mempunyai bayi. Biar bagaimanapun seenak-enaknya di Rumah Sakit, semewah-mewahnya di sana tetap saja enak di rumah sendiri. Masa iya aku tidak boleh tidur saat sudah pagi, kalau subuh iya juga ma, namun ini sudah pagi dan mumpung Mahira juga sudah mandi dan anteng tidur.

Andaikan aku bisa bicara, namun seorang Sarah Agustia tidak akan menyakiti hati seorang ibu mertua bukan. Jadi aku hanya mengiyakan saja.

"Iya ma". Jawabku.

----

Ibu mertua membawa belanjaan dari pasar, ada bayam, daun katuk, jagung, tempe, tahu, dan masih banyak lagi aku hanya menerka-nerka namun terlihat dari plastik yang ia bawa. 

Ada bunga telang yang ia genggam dan diperlihatkannya kepadaku. Dia ambil di tepi jalan ketika pulang dari pasar. 

Bunga telang itu segera dicucinya dikasih air hangat lalu didiamkan berapa saat. Kemudian bila airnya sudah berubah warna biru lalu diteteskan ke kedua mata mahira. Konon katanya supaya menghilangkan belek mata bayi agar matanya bersih. 

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Manut saja apa yang dibilang ibu mertua. Dalam hatiku apa steril tidak ya itu?. Ya nurut sajalah daripada menjadi perkara panjang.
----

Benar saja keesokan harinya keluar belek warna hijau dari mata bayi kecilku Mahira. Ibu mertua senang sekali karena ramuan bunga telangnya berhasil. Dulu dia pun melakukannya kepada bayi kecilnya mas Arya. 

Namun lama-kelamaan besoknya ditetesi lagi supaya lebih bersih. 
"Tuh Sar lihat bagus nanti bersih." Celoteh ibu mertua sambil memperlihatkan mata mahira yang memang keluar belek.

Namun apa karena beleknya dipaksa  keluar atau memang kurang steril ambil di tepi jalan. Mata Mahira merah di hari ketiga ketika ditetesi air bunga telang. Kupikir ya sudahlah ibu mertua pasti lebih berpengalaman.

Aku menangis sesegukan di malam hari ketika mas Arya pulang. Kutahan air mataku. Unek-unekku tumpah meruah di malam itu.

Aku bilang ke mas Arya, kalau kamu kerja, kalau mahira tidur, aku ya tidak tidur dan tidak bisa istirahat, malah aku beberes yang kubisa. Walaupun sebenarnya aku mengantuk dan ingin tidur.

Beberapa hari ibu mertua di rumah, hari-hari terasa berat kujalani apapun yang kulakukan ketika mengurus mahira jadi salah dimatanya. Mandiinnya jangan begitu, bedongnya harus begini, sampai-sampai mama ke pasar sendiri mencari gurita untuk Mahira karena aku tidak membelinya. 

Dalam artikel yang kubaca, dilansir dari hellosehat.com. Tak sedikit kebiasaan turun-temurun dalam merawat bayi yang nyatanya bertentangan dengan dunia medis. Salah satunya adalah membedong perut bayi dengan gurita. Gurita bayi diyakini bermanfaat untuk mencegah masuk angin, mengecilkan perut, dan juga mencegah pusar anak jadi bodong. Padahal, penggunaan gurita bayi justru dapat membahayakan kesehatan anak.

Dengan rinci satu persatu aku mengeluarkan curahan hatiku kepada mas Arya sambil menangis. Kesal sekali rasanya. Seperti bom mau meledak menahan 5 hari ibu mertua di rumah sudah bagaikan mau setahun. 

Ditambah Mahira pun makin rewel sore hari tadi karena matanya bertambah merah. Mas Arya hanya diam saja sambil mengelus rambutku. Mungkin dia bingung mau berpihak kepada aku atau ibunya.
----

"Ma, ini kenapa mata Mahira bisa merah? Emang mama apain? Tanya mas Arya
"Iya, mama kasih air bunga telang, dulu pas kamu bayi mama gituin gak apa-apa kok." Jawab ibu mertua
"Iya ma gak papa, tapi ini buktinya mata Mahira jadi merah, bisa saja gak steril ma. Ini mahira jadi mesti ke dokter. Pagi ini aku ke dokter dulu sama Sarah baru ke kantor." Tegas mas Arya

Mas Arya menjelaskan seperti yang pernah dibacanya di majalah online. Mata bayi yang belekan memang umum dan normal terjadi pada awal-awal kehidupan bayi. Biasanya belekan ini terjadi karena tersumbatnya saluran air mata atau bisa juga karena infeksi. Dikatakan normal jika belek muncul sesekali ketika bayi bangun tidur, bisa membersihkannya dengan menyekanya menggunakan kapas atau kain lap yang dibahasi air.

Sebaiknya tidak meneteskan air rendaman bunga telang pada bayi. Sebenarnya bunga telang memiliki banyak manfaat kesehatan lain, namun yang mengkhawatirkan adalah jika saat proses menyiapkan air rendaman ini tidak steril maka bisa menimbulkan komplikasi lain. (Orami.co.id)

Kulihat wanita paruh baya itu seolah tidak mau disalahkan, merasa anak dan menantunya tidak menuruti apa kata orang tua. Merah matanya Mahira bukan karena air bunga telang, karena ini resep turun-temurun tidak pernah ada apa-apa. Mahira saja yang sering mengkucek-kucek matanya walaupun tangannya sudah disarung tangan.

Sebenarnya juga tidak perlu sampai ke dokter, didiamkan juga sembuh kok. Jangan terlalu sedikit-sedikit ke dokter kalau masih bisa ditangani sendiri, kecuali bilamana sudah merah berhari-hari, Mahira menangis sepanjang waktu. Yah begitulah ibu mertua tetap teguh pendirian menasehati kami.

----

Genap sepekan, akhirnya aku bisa bernafas lega. Inilah hari yang kutunggu-tunggu ibu mertua hendak pulang. Alasannya karena Mahira sudah puput pusar dan Alhamdulillah semenjak dari dokter kemarin, kedua matanya juga sudah tidak merah dan membaik.

"Sar, mama minta maaf ya Nak soal bunga telang. Ada benarnya juga ya mungkin gak bersih, ngambilnya di pinggir jalan sih mama ya. Kalau jaman dulu kan banyak yang nanem di depan rumah." Ujarnya

"Sarah juga minta maaf ya Ma kalau ada salah." Ucapku.

Kurasakan sedih akan kepergiannya namun merasa bebas dilain sisi. Tidak akan ada yang cerewet dan galak lagi, aku bisa tidur dengan nyenyak, bisa mencoba sambal sedikit agar lebih enak makan.

Aku menyadari di balik cerewet dan galaknya seorang ibu, walaupun ada kata yang tersakiti dari ujung lidahnya, itu semata-mata karena dia sayang dan menginginkan yang terbaik. 

Ibu mertua mencium pipiku dan memegang pipiku sambil berkata "Terimakasih nak sudah jagain anak dan cucuku." 

Dipeluknya aku, dekapan yang hangat, digoyang-goyangkan tubuhku dibalik tubuhnya yang gempal seolah-olah aku seperti anak kecil. Gosokan dipunggung ketika memelukku membuatku ingin berlama-lama dipelukannya.

Seharusnya akulah yang berterimakasih, lelah susah payah bercampur peluh engkau mengandung dan menyusui anakmu yang telah menjadi belahan jiwaku, mendidiknya dari kecil, menyekolahkannya dengan biaya yang tidak sedikit sampai jenjang perguruan tinggi. 

Aku yang hanya tinggal menikmati jerih payahmu selama ini lalu engkau harus ikhlas merelekannya pergi bersamaku dan membagi rasa cintamu untukku mencintai putramu. 

Surgaku ada di putramu, namun surganya ada padamu. Semoga aku bisa membahagiakan putramu sebagaimana kau telah membahagiakannya. Dan cukup bagiku shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan dan taat kepada suami untuk mendapatkan surgaNya. Karena sesungguhnya kebahagiaan tertinggi yaitu bisa berkumpul kembali di surga Allah subhanallahu wata'ala Aamiin.

Tangsel, 16 Jan 2022
Amelia Zen
----

“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad)

Penulis
Assalamu'alaikum, salam kenal nama penaku Amelia Zen. Lahir di Jakarta 1986, istri dan Umma dari 3 putri. Menulis dalat menjadi tinta dakwah sebagai reminder bagi diri sendiri dan jalan hidayah bagi orang lain. 

Itulah yang membuat aku senang menulis. Hobiku yang lain membuat DIY bermain anak, berkebun dan memanah bisa intip IGku di @ameliazen. Silakan kritik dan saran yang membangun dapat di ke amelia.rizkimirza@gmail.com.

Wassalamu'alaikum.











Komentar