Surgaku Ada Padamu, Surgamu Ada Pada Ibumu
Sehari rasa sebulan. Rasanya canggung dan tidak nyaman. Ketika Ibu mertua tinggal di rumah kami. Sebenarnya tidak lama hanya seminggu namun rasanya lamaaa sekali. Wajar saja beliau senang kedatangan cucu pertama.
Maklum suamiku adalah anak semata wayang. Arya Kurniadi, nama lengkapnya, aku memanggil dia dengan sebutan mas Arya, padahal suamiku ini bukan orang Jawa. Bahkan kami sama-sama orang berdarah Sumatera. Panggilan mas untuknya adalah panggilanku ketika kami berada di satu almamater. Namun sudah terbiasa sampai aku menikah dengan mas Arya.
”Mama nginep aja Ma di sini seminggu,” Mas Arya menyuruh ibu kandungnya untuk menginap.
Deg! dadaku bergemuruh. Aku menelan ludah pahit namun tetap tersenyum manis mengarah ke suami dan Ibu mertuaku. Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam aku sebenarnya ingin ibu kandungku saja yang ada di rumah kami agar lebih leluasa.
***
Alhamdulillah puji syukur aku melahirkan anak pertama yang kami beri nama Khadijah Mahira Putri. Nama ini kami pilih layaknya nama adalah sebuah doa. Semoga paras dan perangainya seperti Khadijah radiallahu 'anhu, istri Nabi Muhammad sallallahu 'allahi wassalam dan semoga anak kami menjadi anak yang cerdas, diantara namanya kami selipkan mahira diambil dari kata mahir yang berarti cerdas. Aamiin…
“Mahira, biar saya aja yang bantu urus ya Ma, Mama kan sudah sering urus bayi, cucunya aja udah sepuluh, saya baru satu ini,” pinta ibu mertua kepada besannya.
“Iya silakan aja Ma, enak aku jadi gak repot,” celoteh ibuku sambil menyeringai senang.
Rumah ibuku memang dekat dengan kami, hanya berbeda dua blok dari rumah kami. Setiap saat ibu juga bisa ke rumah kami kapanpun ia ingin menengok cucunya. Sedangkan Ibu mertua tinggal di kota Tangerang yang menempuh waktu satu setengah jam ke rumah kami yang berada di Tangerang Selatan.
Alhamdulillah saat persalinan normal, mas Arya, Ibu mertua dan ibuku hadir menemani. Setelah dua hari di Rumah Sakit. Tiba hari ini aku sampai di rumah. Keputusan sudah bulat, Ibu mertua akan ada menemani hari-hariku mengurus bayi.
Karena cerita kebanyakan orang dan aku pun mengiyakan bahwa mempunyai Ibu mertua yang tinggal serumah tidak semulus jalan tol. Maka dari itu sedari kami menikah, aku dan mas Arya ingin mandiri, tidak tinggal satu atap dengan orang tuaku maupun orang tua mas Arya.
***
"Sar, haduh kamu jangan tidur kalau pagi, nanti darah putihnya ke otak. Duduk aja,” Ibu mertua memergokiku mengantuk sehabis menyusui Mahira.
Sontak kaget, mataku langsung terbelalak. Dalm hati ingin rasanya menimpali. Ya ampun ma. Aku ini baru saja habis melahirkan, pembukaan gelisah dari jam 4.00 pagi dan melahirkan baru jam 17.00 sore. Aku dua hari di Rumah Sakit tidak bisa tidur karena putingku lecet menyusui Mahira, harus begadang karena baru saja mempunyai bayi. Biar bagaimanapun seenak-enaknya di Rumah Sakit, semewah-mewahnya di sana tetap saja enak di rumah sendiri. Masa iya aku tidak boleh tidur saat sudah pagi, kalau subuh iya juga Ma, namun ini sudah pagi dan mumpung Mahira juga sudah mandi dan anteng tidur.
Andaikan aku bisa bicara, namun seorang Sarah Agustia tidak akan menyakiti hati seorang Ibu mertua bukan. Jadi aku hanya mengiyakan saja.
"Iya Ma," jawabku.
***
Ibu mertua membawa belanjaannya dari pasar, ada bayam, daun katuk, jagung, tempe, tahu, dan masih banyak lagi, aku hanya menerka-nerka yang terlihat dari plastik yang Ia bawa.
Ada bunga telang yang Ia genggam dan diperlihatkannya kepadaku. Ia ambil di tepi jalan ketika pulang dari pasar. Bunga telang itu segera dicucinya dikasih air hangat lalu didiamkan berapa saat. Kemudian bila airnya sudah berubah warna biru lalu diteteskan ke kedua mata mahira. Konon katanya supaya menghilangkan belek mata bayi agar matanya bersih.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Manut saja apa yang dibilang Ibu mertua. Dalam hatiku apa steril tidak ya itu?. Ya nurut sajalah daripada menjadi perkara panjang.
***
Benar saja keesokan harinya keluar belek warna hijau dari mata bayi kecilku mahira. Ibu mertua senang sekali karena ramuan bunga telangnya berhasil. Dulu dia pun melakukannya kepada bayi kecilnya mas Arya.
Namun lama-kelamaan besoknya ditetesi lagi supaya lebih bersih.
“Tuh Sar lihat bagus nanti bersih,” celoteh Ibu mertua sambil memperlihatkan mata mahira yang memang keluar belek.
Aku memperhatikan Mahira, apa beleknya dipaksa keluar atau memang kurang steril ambil di tepi jalan. Mata mahira merah di hari ketiga ketika ditetesi air bunga telang. Kupikir ya sudahlah Ibu mertua pasti lebih berpengalaman. Walaupun tetap perasaan khawatir ada di dalam hatiku.
Aku menangis sesenggukan di malam hari ketika mas Arya pulang. Kutahan air mataku. Unek-unekku tumpah meruah, Aku bilang ke mas Arya, kalau kamu kerja, kalau mahira tidur, aku ya tidak tidur dan tidak bisa istirahat, malah aku beberes yang kubisa. Walaupun sebenarnya aku mengantuk dan ingin tidur.
Beberapa hari Ibu mertua di rumah, hari-hari terasa berat kujalani apapun yang kulakukan ketika mengurus mahira jadi salah dimatanya. jangan begini cara memandikan bayi, jangan begitu cara membedong bayi, sampai-sampai mama ke pasar sendiri mencari gurita untuk Mahira karena aku tidak membelinya.
Dalam artikel yang kubaca, tak sedikit kebiasaan turun-temurun dalam merawat bayi nyatanya bertentangan dengan dunia medis. Gurita bayi diyakini bermanfaat mencegah masuk angin, mengecilkan perut, dan mencegah pusar anak jadi bodong. Padahal, penggunaan gurita bayi justru dapat membahayakan kesehatan anak.
Aku mengeluarkan curahan hatiku kepada mas Arya sambil menangis. Kesal sekali rasanya. Seperti bom mau meledak menahan lima hari Ibu mertua di rumah sudah bagaikan mau setahun.
Ditambah Mahira pun makin rewel sore hari tadi karena matanya bertambah merah. Mas Arya hanya diam saja sambil mengelus rambutku seolah-olah tau bahwa yang terbaik saat ini adalah sabar.
***
“Ma, ini kenapa mata Mahira bisa merah? Emang Mama apain?” tanya mas Arya.
“Iya, Mama kasih air bunga telang, dulu pas Kamu bayi Mama gituin gak apa-apa kok,” jawab Ibu mertua.
“Iya ma gak papa, tapi ini buktinya mata Mahira jadi merah, bisa saja gak steril Ma. Ini Mahira jadi mesti ke dokter. Pagi ini Aku ke dokter dulu sama Sarah baru ke kantor,” jelas mas Arya.
Mas Arya menjelaskan seperti yang pernah dibacanya di majalah online. Mata bayi yang belekan memang umum dan normal pada bayi yang baru lahir. Biasanya belekan ini terjadi karena tersumbatnya saluran air mata atau bisa juga karena infeksi. Sebaiknya tidak meneteskan air rendaman bunga telang pada bayi.
Sebenarnya bunga telang memiliki banyak manfaat kesehatan lain, namun yang mengkhawatirkan adalah jika saat proses menyiapkan air rendaman ini tidak steril maka bisa menimbulkan komplikasi lain.
Kulihat wanita paruh baya itu seolah tidak mau disalahkan, merasa anak dan menantunya tidak menuruti apa kata orang tua. Merah matanya Mahira bukan karena air bunga telang, karena ini resep turun-temurun tidak pernah ada apa-apa. Mahira saja yang sering mengkucek-kucek matanya walaupun tangannya sudah disarung tangan.
Sebenarnya juga tidak perlu sampai ke dokter, didiamkan juga sembuh kok. Jangan terlalu sedikit-sedikit ke dokter kalau masih bisa ditangani sendiri. Yah begitulah Ibu mertua tetap teguh pendirian menasehati kami.
***
Genap sepekan, akhirnya aku bisa bernafas lega. Inilah hari yang kutunggu-tunggu Ibu mertua hendak pulang. Alasannya karena Mahira sudah puput pusar dan Alhamdulillah semenjak dari dokter kemarin, kedua matanya juga sudah tidak merah dan membaik.
“Sar, Mama minta maaf ya Nak soal bunga telang. Ada benarnya juga ya mungkin gak bersih, ngambilnya di pinggir jalan sih mama ya. Kalau jaman dulu kan banyak yang nanem di depan Rumah,” ujarnya penuh penyesalan.
“Sarah juga minta maaf ya Ma kalau ada salah sama Mama,” balasku.
Akhirnya Ibu mertua meminta maaf akan apa yang dilakukan. Ada perasaan sedih menyelimuti sanubariku tetapi di sisi lain aku merasa lega seperti terbang bebas di angkasa. Dalam benakku, tidak akan ada yang cerewet dan galak lagi, aku bisa tidur dengan nyenyak, bisa mencoba sambal sedikit agar lebih enak makan.
Apabila dipikirkan baik-baik, aku menyadari di balik cerewet dan galaknya seorang Ibu mertua, itu semata-mata karena Ia sayang dan menginginkan yang terbaik. Tetapi mungkin caranya yang salah atau kurang tepat.
Ibu mertua mencium pipiku dan memegang pipiku sambil berkata “Terimakasih Nak, sudah jagain anak dan cucuku,” ucapnya.
Kulihat bulir air matanya mengumpul di pelupuk matanya, ada ketulusan disana. Dipeluknya aku, dekapan yang hangat, digoyang-goyangkan tubuhku dibalik tubuhnya yang gempal seolah-olah aku seperti anak kecil. Gosokan dipunggung ketika memelukku membuatku ingin berlama-lama dipelukannya. Pelukan yang sama seperti pelukan ibuku. Air matakupun jatuh tak terbendung.
Seharusnya akulah yang berterimakasih, lelah susah payah bercampur peluh engkau mengandung dan menyusui anakmu yang telah menjadi belahan jiwaku, mendidiknya sedari kecil, menyekolahkannya dengan biaya yang tidak sedikit sampai jenjang perguruan tinggi.
Aku yang hanya tinggal menikmati jerih payahmu selama ini lalu engkau harus ikhlas merelekannya pergi bersamaku dan membagi rasa cintanya untuk mencintaiku.
“Terimakasih banyak Ma, doakan kami ya Ma agar selalu jadi anak yang berbakti,” sahutku kepada Ibu mertua.
Terlebih aku sebagai seorang istri harus berbakti kepada suami. Surgaku ada di putramu, namun surganya ada padamu.
“Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).
****
Quote :
Ibu kandung dan ibu mertua, kedudukannya sama yaitu sama-sama orang tua yang harus kita berbakti kepada mereka. Apa yang dilakukan ibu mertua kepada kita dalam hal mencampuri urusan rumah tangga semata-mata bukan karena kejahatan atau kebencian dari beliau. Dengarkan ia selama tidak bertentangan dengan syariat islam. Mungkin caranya yang salah atau ketidaktahuan beliau akan ilmunya. Sabar dan bersikap sopan santun serta bertutur kata yang lembut kepada orang tua merupakan bakti kita kepada mereka.
Penulis:
Amelia Zen, lahir di Jakarta 1986, istri dan Umma dari 3 putri, domisili di Tangerang Selatan. Menulis bagiku adalah tinta dakwah sebagai reminder bagi diri sendiri. Hobiku yang lain membuat DIY bermain anak, berkebun dan memanah bisa intip IGku di @ameliazen. Silakan kritik dan saran yang membangun dapat di ke amelia.rizkimirza@gmail.com
Komentar
Posting Komentar