Kesempatan berbicara kepada Allah
Catatan ketika ikut kajian bareng Ustadz Felix Siaw pada bulan ramadhan tahun 2021, beberapa waktu yang lalu.
Kenyataannyannya ketika Rasulullah salallahu 'alaihi wassalam pada saat sedih, Allah menurunkan Al qur'an. Misal di dalam Surah Al-Ankabut 1-5
Ayat 1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓمٓ
Alif laam miim
«الم» الله أعلم بمراده بذلك.
(Alif Lam Mim) hanya Allah yang lebih mengetahui maksudnya.
Ayat 2
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
«أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا» أي: بقولهم «آمنا وهم لا يفتنون» يختبرون بما يتبين به حقيقة إيمانهم، نزل في جماعة آمنوا فآذاهم المشركون.
(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan) mengenai ucapan mereka yang mengatakan, ("Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji lagi?) diuji lebih dulu dengan hal-hal yang akan menampakkan hakikat keimanan mereka. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang masuk Islam, kemudian mereka disiksa oleh orang-orang musyrik.
Ayat 3
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
«ولقد فتنَّا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا» في إيمانهم علم مشاهدة «وليعلمنَّ الكاذبين» فيه.
(Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar) di dalam keimanan mereka dengan pengetahuan yang menyaksikan (dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta) di dalam keimanannya.
Ayat 4
أَمْ حَسِبَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن يَسْبِقُونَا ۚ سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
«أم حسب الذين يعملون السيئات» الشرك والمعاصي «أن يسبقونا» يفوتونا فلا ننتقم منهم «ساء» بئس «ما» الذي «يحكمونـ» ـه حكمهم هذا.
(Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira) berupa perbuatan musyrik dan perbuatan maksiat (bahwa mereka akan luput dari Kami) maksudnya mereka dapat selamat sehingga Kami tidak membalas mereka (Amat buruklah) alangkah jeleknya (apa) yang (mereka putuskan) itu; seburuk-buruk keputusan adalah keputusan mereka.
Ayat 5
مَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَءَاتٍ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
«من كان يرجو» يخاف «لقاء الله فإن أجل الله» به «لآتٍ» فليستعد له «وهو السميع» لأقوال العباد «العليم» بأفعالهم.
(Barang siapa yang mengharap) merasa takut (bertemu dengan Allah, maka sesungguhnya waktu Allah itu) yang dijanjikan-Nya (pasti datang) maka hendaknya dia bersiap sedia untuk itu. (Dan Dialah Yang Maha Mendengar) perkataan hamba-hamba-Nya (lagi Maha Mengetahui) perbuatan-perbuatan mereka.
Surah Al-Ankabut ini diturunkan saat rasulullah bersedih ketika meninggalnya Khodijah dan Hamzah. "Wahai muhammad apakah kamu mengira Allah tidak akan diuji? Dan sebelum kalian ada orang-orang yang sholih dibanding mereka akan diuji."
Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba Nya pada malam hari, dari masjidil haram ke masjidil aqsha. Baitul maqdis dan lainlain. Berbincang-bincang dengan Allah dan rosul.
Artinya kenapa ke masjidil aqsha? Karena disini terjadi kondisi yang sama. Tidak kebetulan. Seolah-olah menggambarkan ada badai namun ada kondisi tenang.
Wahai muhammad ini adalah masjidil aqsha. Kamu sedang mengalami kesulitan, apabila kamu merdeka, kamu juga harus memerdekakan. Seolah-olah Allah mengatakan kamu tidak sendiri. Lalu Rasulullah diangkat ke sudratul muntaha.
'Setting' Isra Miraj, kondisi rasulullah sedang dalam kondisi susah, mereka disuruh sholat 5 waktu. Rasulullah membawa perintah sholat lalu menyampaikan kepada para sahabatnya senang. Sesungguhnya dimana ada kesulitan ada kemudahan. Kalau mau minta sesuatu kepada Nabi dahulu karena sebagai penghubung. Ketika terjadi pada Nabi Musa as, Nabi Isa as. Kalau sahabat pada zaman Rasulullah minta kepada beliau.
Maka Allah seolah-olah berbicara wahai umatku sholatlah dan mintalah kepadaKu. Dalam 5 (lima) kali sehari untuk meminta kepada Allah. Maka dari itu ambil kesempatan itu. Tidak ada hijab antara kita dengan Allah.
Tundukkan kening kita kepada Allah. Derajat tinggi adalah saat kita bersujud. Perintah Allah untuk menundukkan bagian tertinggi di keningnya iblis tetapi dia sombong. Posisi tertinggi dari manusia adalah saat kita merendahkan diri.
6 Juli 2021
19.00 wib
Amelia Zen
Komentar
Posting Komentar