Rumah Berantakan Melulu

Bismillah dini hari pukul 22.00 wib, hari selasa tanggal 9 Maret 2021.

Mau tidur tapi rumah masih berantakan. Kalau sudah ngantuk banget, saya langsung tinggal tidur. Kalau masih banyak energi saya bereskan dulu sebelum tidur.

Tadi pagi sudah dibereskan untuk sesi pertama, sesi siang anak sulung saya yang membereskan. Alhamdulillah dia mau disuruh karena saya harus menidurkan adiknya yang bungsu. Sesi dua alhamdulillah rapih ruang tamu. 

Sesi tiganya harusnya sebelum tidur ini. Namun sebelum saya membereskan saya mau duduk santai dulu sambil menulis.

Rasanya memang indah ya kalau rumah itu rapih dan bersih. Namun pernahkah membayangkan 10 tahun dari sekarang berarti umur anak saya yang sulung nanti in syaa Allah 18 tahun, yang notabene tidak bermain barbie lagi, tidak ada pensil warna, kertas berserakan di ruang tamu, mainan yang berserakan di lantai, buku-buku bacaan anak-anak yang tidak ditaruh semestinya. 

Dulu waktu saya umur 18 tahun, saya sudah berkuliah, jauh di luar kota, punya kamar kos sendiri, bisa merapihkan kamar sendiri, walaupun ya kalau lagi malas berantakan sementara nantipun akan dibereskan.

Anak sulung saya malah 1 level di atas saya dalam hal beres-beres maa syaa Allah tabarakallahu. Tetapi yaa bila dia sedang malas ya tidak dibenahi juga. Saya pun lantas tidak akan marah-marah (kalau lagi waras, biasa marah itu ada embel-embel ibu sedang lapar atau stress). 

Anak-anak sama halnya dengan orang dewasa juga, ada rasa malas juga bukan? Sesekali.

Kembali ke rumah yang saat ini sedang berantakan, saya lihat seisi ruang tamu ini penuh dengan barang-barang mainan tercecer kesana-kemari. Saya lihat lagi dengan seksama malah membuat saya tersenyum. 

Maa syaa Allah ruangan seperti ini yang saya idam-idamkan nanti 10 tahun lagi. Rumah yang riuh ramai, berantakan, kadang potongan lego kecil 'keinjek' telapak kaki sakitnya bukan main, ada canda tawa anak-anak, kejar-kejaran memakaikan baju anak saya yang bungsu, 'ditangisin' anak saya yang kedua karena saya mau pergi sedangkan dia mau ikut namun tidak diperbolehkan. Ya Allah rindunya masa-masa ini ya nantinya.

Tak terasa buliran air mata jatuh di pipi. Mengapa harus marah, teriak menyuruh anak membereskan ya? Kenapa masa-masa ini tidak dinikmati setiap harinya bahkan setiap detik mereka ada di rumah.

Biarkan ruangan ini berantakan sampai pagi. Kalau besok ada yang bertanya "kok rumahnya berantakan?" Saya akan menjawab "masa-masa ini tidak akan terulang lagi :')"

Ameliazen

22.25 wib


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intinya mah Ngobrol!

Alasan terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga

Proyek Akhir Tahun Rumbel Menulis IP Tangsel 2021